Oleh: Syafridoerahman
7.topone.id – Bencana alam galodo yang menerjang Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Senin malam, 21 September 2026, kembali mengingatkan kita bahwa alam tidak pernah bisa diajak berkompromi.
Dalam hitungan waktu, derasnya material longsoran dan air bah menerjang sejumlah kawasan, meninggalkan kerusakan, kepanikan dan kesedihan bagi masyarakat yang terdampak.
Galodo Arosuka memang tidak sebesar bencana yang melanda Kabupaten Solok pada penghujung 2025 lalu. Namun, dampaknya tetap terasa. Dan yang menarik, bencana kali ini kembali memperlihatkan satu hal dimana Kabupaten Solok tidak lagi menghadapi persoalan sendirian.
Bantuan dan perhatian datang dari berbagai daerah. Pemerintah pusat turun memberikan perhatian. Bahkan dukungan dari lembaga negara, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), ikut mengalir untuk membantu masyarakat terdampak.
Di tengah suasana duka tersebut, muncul pertanyaan sederhana, mengapa perhatian terhadap Kabupaten Solok begitu cepat berdatangan?
Jawabannya tentu tidak bisa disederhanakan pada satu faktor. Namun, kepemimpinan daerah dan kemampuan membangun komunikasi serta jejaring antar lembaga menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.
Di bawah kepemimpinan Dr. (HC) Jon Firman Pandu, SH dan H. Candra, SHI, Kabupaten Solok sedang memperlihatkan wajah yang berbeda.
Dari Daerah yang Riuh Menjadi Daerah yang Berusaha Sejuk
Kabupaten Solok bukan daerah yang sebelumnya tidak memiliki persoalan. Dinamika politik dan hubungan antara eksekutif dengan legislatif pernah menjadi sorotan. Perdebatan dan kericuhan bahkan sempat menjadi konsumsi publik.
Namun, situasi itu perlahan coba diubah. Tagline “Solok Sejuk dan Damai” tidak berhenti sebagai rangkaian kata. Setidaknya dalam beberapa momentum, tagline tersebut berusaha diterjemahkan melalui komunikasi dan sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, masyarakat serta berbagai unsur lainnya.
Ketika eksekutif dan legislatif tidak lagi sibuk mempertontonkan perbedaan, ruang untuk membicarakan kepentingan masyarakat menjadi jauh lebih terbuka.
Bencana selalu menjadi ujian paling nyata. Dalam kondisi normal, membangun komunikasi mungkin terasa mudah. Tetapi ketika bencana datang, yang dibutuhkan bukan sekadar pernyataan, melainkan kecepatan bergerak, koordinasi dan kemampuan membuka akses bantuan dan di sinilah kepemimpinan diuji.
Ketika Pemimpin Hadir di Tengah Persoalan
Salah satu hal yang terlihat dalam penanganan bencana adalah kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Jon Firman Pandu bersama H. Candra dituntut untuk tidak hanya hadir sebagai pemegang jabatan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Kehadiran pemimpin di tengah masyarakat yang sedang kehilangan rumah, harta benda, bahkan rasa aman, memiliki arti tersendiri. Masyarakat mungkin tidak langsung membutuhkan pidato panjang.
Mereka membutuhkan pemerintah yang datang. Mereka membutuhkan bantuan yang bergerak. Mereka membutuhkan koordinasi yang berjalan. Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan keyakinan bahwa daerahnya tidak ditinggalkan.
Dalam konteks itulah perhatian pemerintah pusat, DPR RI, pemerintah daerah lain, TNI, Polri, relawan, petugas kebencanaan dan berbagai pihak lainnya menjadi sangat berarti.
Kabupaten Solok seperti mendapatkan pesan bahwa ketika bencana datang, daerah ini tidak dibiarkan menangis seorang diri.
Bencana Mengajarkan Arti Kolaborasi
Ada satu pelajaran penting dari galodo Arosuka. Membangun Kabupaten Solok tidak mungkin dilakukan hanya oleh seorang bupati dan wakil bupati. Tidak mungkin pula hanya mengandalkan DPRD. Apalagi hanya berharap kepada pemerintah pusat.
Daerah membutuhkan kolaborasi. Pemerintah daerah membutuhkan DPRD. Pemerintah membutuhkan masyarakat. Pemerintah membutuhkan TNI dan Polri. Pemerintah membutuhkan dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan, tenaga kesehatan, media dan seluruh elemen masyarakat.
Dalam kondisi bencana, semua sekat tersebut semestinya hilang. Yang tersisa hanya satu kepentingan yaitu menyelamatkan masyarakat dan memulihkan Kabupaten Solok.
Dan kepemimpinan Jon Firman Pandu dan H. Candra memberikan contoh bahwa membangun daerah memang membutuhkan kebersamaan.
Tidak ada pemerintah yang bisa bekerja sendiri. Tidak ada satu lembaga yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan. Yang ada adalah kerja bersama.
Perhatian Nasional, Modal Sosial yang Harus Dijaga
Informasi mengenai rencana kunjungan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming, ke wilayah terdampak bencana juga menjadi bagian dari besarnya perhatian terhadap musibah yang terjadi di Arosuka.
Terlepas dari agenda tersebut, satu hal yang patut dicatat adalah bagaimana sebuah peristiwa di daerah dapat dengan cepat mendapatkan perhatian lebih luas.
Bagi Kabupaten Solok, perhatian tersebut tentu bukan sekadar soal kedatangan pejabat atau bantuan material. Lebih dari itu, perhatian tersebut adalah modal sosial.
Modal untuk membangun kembali rumah-rumah yang rusak. Modal untuk memulihkan perekonomian masyarakat. Modal untuk memperbaiki infrastruktur. Dan yang paling penting, modal untuk membangun kembali rasa percaya diri masyarakat setelah diterpa bencana.
Namun, perhatian itu juga harus dijawab dengan kerja nyata, bantuan harus tepat sasaran, pemulihan harus transparan, masyarakat terdampak harus menjadi prioritas. Dan evaluasi terhadap potensi bencana ke depan harus dilakukan secara serius.
Sebab galodo bukan sekadar persoalan hari ini. Ia adalah peringatan bahwa mitigasi bencana harus menjadi bagian penting dari pembangunan Kabupaten Solok.
Kabupaten Solok Sedang Diuji
Galodo Arosuka sejatinya bukan hanya ujian bagi masyarakat yang terdampak.
Ini juga ujian bagi pemerintah daerah, ujian bagi DPRD, ujian bagi seluruh unsur masyarakat. Apakah solidaritas yang terlihat saat bencana mampu dipertahankan ketika suasana sudah kembali normal?.
Apakah semangat “Solok Sejuk dan Damai” mampu terus dijaga setelah persoalan bencana berlalu?. Dan apakah kolaborasi yang terbangun saat masyarakat membutuhkan pertolongan dapat diteruskan untuk menjawab persoalan pembangunan lainnya?. Jawabannya akan terlihat dalam perjalanan waktu.
Yang jelas, bencana ini kembali mengajarkan bahwa kekuatan sebuah daerah bukan hanya terletak pada besarnya anggaran, tetapi juga pada kuatnya kebersamaan. Dan Kabupaten Solok hari ini sedang menunjukkan bahwa ketika seluruh elemen bersatu, perhatian dari luar pun akan lebih mudah datang.
Cepat Pulih Kabupaten Solok
Untuk masyarakat yang menjadi korban galodo Arosuka, tidak ada kata yang lebih tepat selain sabar dan tabah. Bencana ini mungkin meninggalkan luka. Tetapi dari luka itu pula harus lahir kekuatan untuk bangkit.
Terima kasih kepada seluruh personel TNI, Polri, BPBD, tenaga kesehatan, relawan, petugas lapangan, pemerintah daerah, pemerintah pusat, DPR RI, pemerintah daerah lainnya, dunia usaha dan seluruh masyarakat yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam proses penanganan serta pemulihan pascabencana.
Galodo boleh datang membawa kehancuran, tetapi jangan sampai ia menghancurkan semangat kebersamaan. Kabupaten Solok harus bangkit, masyarakatnya harus kembali tersenyum. Dan semoga setiap langkah pemulihan diberikan kemudahan serta perlindungan oleh Allah SWT.
Dari Arosuka, kita belajar bahwa daerah yang kuat bukan daerah yang tidak pernah dilanda bencana, tetapi daerah yang mampu bangkit karena seluruh elemen memilih untuk berdiri bersama. (Rd)











