7.topone.id – Dugaan praktik perploncoan terhadap siswa baru di lingkungan asrama SMAN 2 Sumatera Barat (Sumbar) menjadi sorotan. Sejumlah siswa senior laki-laki disebut mendatangi asrama siswa baru, dan diduga melakukan tindakan bernuansa perploncoan hingga dini hari.
Informasi tersebut disampaikan seorang wali murid, kepada awak media, Kamis (17/9/2026), dan meminta identitasnya dirahasiakan demi kepentingan perlindungan anak.
Menurut sumber tersebut, sejumlah siswa senior laki-laki mendatangi asrama siswa baru sekitar pukul 23.00 WIB. Para siswa baru kemudian disebut diminta berdiri dan mendapat cercaan serta kata-kata bernuansa perploncoan.
Kegiatan itu, menurut keterangan wali murid, diduga berlangsung selama berjam-jam hingga sekitar pukul 04.00 WIB.
“Senior laki-laki datang ke asrama junior laki-laki sekitar pukul 23.00 WIB. Anak-anak disuruh berdiri dan dicerca dengan kata-kata perploncoan sampai sekitar pukul 04.00 WIB,” ungkap wali murid tersebut kepada wartawan.
Dugaan tersebut kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai sistem pengawasan siswa di lingkungan asrama. Pasalnya, para siswa berada dalam lingkungan sekolah berasrama yang memiliki guru pengasuh. Selain itu, sejumlah titik di kawasan asrama disebut telah dilengkapi kamera pengawas atau CCTV.
Jika kegiatan tersebut benar berlangsung selama beberapa jam pada tengah malam hingga dini hari, salah satu hal yang perlu dipastikan dalam pemeriksaan adalah apakah aktivitas tersebut diketahui atau terpantau oleh pengasuh asrama maupun pihak sekolah.
Rekaman CCTV pada waktu kejadian juga menjadi salah satu sumber informasi penting untuk mengungkap kronologi secara objektif.
Spontan atau Sudah Menjadi Tradisi?
Selain memastikan fakta kejadian, pertanyaan lain yang perlu dijawab adalah apakah tindakan tersebut merupakan aksi spontan sejumlah siswa senior atau justru bagian dari pola penerimaan siswa baru yang telah berlangsung sebelumnya.
Hal tersebut penting untuk ditelusuri agar tidak muncul kesimpulan sepihak sebelum seluruh pihak dimintai keterangan.
Keterangan siswa yang terlibat maupun yang mengetahui kejadian, guru pengasuh, pengelola asrama serta hasil pemeriksaan CCTV diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Termasuk memastikan ada atau tidaknya unsur intimidasi, tekanan maupun tindakan lain yang berpotensi mengarah pada kekerasan terhadap siswa baru.
Dinas Pendidikan Turunkan Tim Investigasi
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III, Syafruddin, M.Pd, mengaku belum mengetahui secara pasti fakta terkait informasi dugaan perploncoan tersebut. Untuk memastikan kebenaran laporan sekaligus melakukan pembinaan, pihaknya menurunkan tim investigasi ke SMAN 2 Sumbar pada Jumat (18/9/2026).
Syafruddin mengatakan, apabila hasil pemeriksaan nantinya membuktikan dugaan perploncoan tersebut benar terjadi, pihaknya menyayangkan kejadian itu bisa berlangsung tanpa terdeteksi oleh pihak sekolah.
Menurutnya, tindak lanjut akan ditentukan berdasarkan fakta yang ditemukan tim di lapangan, mulai dari teguran hingga pemberian sanksi kepada pihak terkait sesuai hasil pemeriksaan.
“Kalau memang terbukti, tentu sangat disayangkan mengapa kegiatan tersebut tidak terdeteksi oleh pihak sekolah. Tindak lanjutnya akan kita lihat berdasarkan hasil pemeriksaan,” ujar Syafruddin.
Kepala Sekolah Belum Berikan Keterangan
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala SMAN 2 Sumbar, Ratna Yulia, S.Pd, M.Pd, telah dilakukan wartawan melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp. Namun, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh respons maupun keterangan resmi dari pihak sekolah terkait dugaan tersebut.
Konfirmasi dari pihak sekolah tetap diperlukan untuk memperoleh penjelasan mengenai sistem pengawasan asrama, keberadaan guru pengasuh pada saat kejadian, serta apakah pihak sekolah telah mengetahui atau melakukan pemeriksaan terhadap dugaan aktivitas tersebut.
Menunggu Hasil Investigasi
Jika dugaan tersebut nantinya terbukti, persoalannya tidak hanya menyangkut perilaku siswa senior. Kasus ini juga akan menjadi bahan evaluasi terhadap efektivitas sistem pengawasan dan perlindungan siswa di lingkungan sekolah berasrama.
Kegiatan yang diduga berlangsung sejak sekitar pukul 23.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB perlu ditelusuri secara menyeluruh, terutama untuk memastikan kondisi siswa baru serta ada atau tidaknya unsur intimidasi maupun kekerasan selama kegiatan berlangsung.
Dinas Pendidikan Sumatera Barat diharapkan menjadikan hasil investigasi sebagai bahan evaluasi terhadap sistem pembinaan dan pengawasan di sekolah berasrama, termasuk mekanisme pencegahan tindakan perundungan dan kekerasan terhadap siswa.
Praktik perploncoan, apabila terbukti mengandung unsur intimidasi atau kekerasan, perlu ditangani secara serius agar tidak berkembang menjadi tindakan yang membahayakan keselamatan dan kondisi psikologis peserta didik.
Kini perhatian tertuju pada hasil investigasi Tim Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III.
Fakta mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Kamis malam, bagaimana kegiatan tersebut dapat berlangsung hingga dini hari, serta sejauh mana pengawasan guru pengasuh dan sistem CCTV berfungsi, diharapkan dapat terungkap secara objektif.
Berita ini masih akan diperbarui setelah pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan memberikan keterangan resmi terkait hasil pemeriksaan. (Rd)











