7.TOPONE.ID – Niat hati memulihkan trauma anak-anak korban Galodo, kegiatan psycho healing dan forum literasi di Masjid Ar-Rahman, Arosuka, Kabupaten Solok, justru berujung insiden kesehatan. Sebanyak 20 anak mendadak mengalami mual dan muntah hingga harus dilarikan ke RSUD Arosuka, Sabtu (3/10/2026) malam.
Peristiwa yang mengejutkan tersebut terjadi setelah anak-anak mengikuti kegiatan pemulihan psikologis pascabencana yang digelar Yayasan Forum Penggerak Literasi Kota Solok. Dugaan sementara mengarah pada makanan dan minuman yang dibagikan kepada peserta, terutama susu kambing produksi peternak skala kecil di Kota Solok.
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB, usai Salat Ashar, itu awalnya berjalan sebagaimana mestinya. Anak-anak korban Galodo mendapatkan pendampingan psikologis dan mengikuti forum literasi untuk membantu memulihkan kondisi mental mereka setelah dilanda bencana.
Namun, suasana berubah setelah panitia membagikan sejumlah makanan dan minuman, di antaranya susu botol, susu kotak Indomilk, risoles, serta makanan ringan.
Dalam rentang waktu satu hingga enam jam setelah mengonsumsi makanan dan minuman tersebut, sejumlah anak mulai mengeluhkan mual dan muntah. Kondisi itu membuat orang tua dan pihak terkait panik hingga para korban berbondong-bondong mendatangi RSUD Arosuka.
Direktur RSUD Arosuka, Jebnoka Levismon, membenarkan adanya 20 anak yang mendapatkan penanganan medis akibat kejadian tersebut.
“Ada forum literasi trauma healing di Masjid Ar-Rahman, dibagikan susu botolan, susu pasteurisasi. Setelah minum susu itu anak-anak muntah-muntah, total jumlah pasiennya 20 orang,” ungkap Jebnoka Levismon.
Susu Kambing Disimpan pada Suhu Ruang, Batas Konsumsi Delapan Jam Jadi Sorotan
Fakta menarik terungkap dari penjelasan Hendra Saputra, pihak panitia kegiatan. Ia menyebut susu kambing yang dibagikan kepada anak-anak merupakan susu murni hasil peternakan skala kecil di Kota Solok.
Menurut Hendra, susu tersebut memiliki batas waktu konsumsi maksimal sekitar delapan jam setelah diperah. Susu diambil sekitar pukul 08.00 WIB sebanyak dua hingga lima botol, kemudian disimpan pada suhu ruang sebelum diolah dan dibagikan.
Persoalan muncul ketika susu tersebut baru diolah sekitar pukul 17.30 WIB, sementara batas waktu konsumsi yang disebutkan sudah terlampaui apabila dihitung sejak pemerahan.
Lebih jauh, Hendra mengakui panitia lalai mengingatkan anak-anak mengenai batas waktu konsumsi susu tersebut.
“Ini susu kambing produksi peternak skala kecil. Susu tersebut layak konsumsi maksimal delapan jam setelah diperah. Saat memberikan susu kepada anak-anak, kami memang lupa mengingatkan limit waktu konsumsi susu tersebut,” jelas Hendra.
Pengakuan tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai prosedur penanganan, pengolahan, dan penyimpanan produk susu yang dibagikan kepada anak-anak, terlebih dalam kegiatan yang melibatkan peserta rentan pascabencana.
Meski demikian, dugaan bahwa susu kambing menjadi penyebab munculnya keluhan kesehatan belum dapat dipastikan. Pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut oleh instansi berwenang masih diperlukan untuk mengungkap penyebab sebenarnya.
20 Anak Mendapat Penanganan Medis, Seluruhnya Dipulangkan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, anak-anak mulai berdatangan ke RSUD Arosuka sekitar pukul 21.00 WIB. Hingga pukul 23.00 WIB, jumlah pasien yang tercatat mencapai 20 orang dengan keluhan utama mual dan muntah.
Petugas medis langsung memberikan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi masing-masing pasien.
Kabar baiknya, setelah mendapatkan pelayanan kesehatan, kondisi seluruh anak berangsur membaik. Sekitar pukul 03.00 WIB, Minggu (4/10/2026) dini hari, seluruh pasien diperbolehkan pulang.
Meski demikian, pemantauan tidak berhenti di rumah sakit. Pada Minggu pagi, Dinas Kesehatan Kabupaten Solok turut menindaklanjuti dan memantau kondisi anak-anak tersebut guna memastikan tidak ada keluhan lanjutan.
Panitia Akui Tak Berkoordinasi dengan Pemkab Solok
Di tengah insiden yang menjadi perhatian publik itu, Hendra Saputra juga mengungkapkan bahwa kegiatan psycho healing dan forum literasi tersebut dilaksanakan langsung di Masjid Ar-Rahman Arosuka tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan Pemerintah Kabupaten Solok.
Pihak panitia, kata Hendra, langsung mendatangi RSUD Arosuka pada malam kejadian dan menyatakan kesediaannya bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan anak-anak yang mendapatkan penanganan medis.
Selain persoalan koordinasi, status produk susu yang dibagikan juga menjadi sorotan. Hendra mengakui susu kambing tersebut belum memiliki sertifikasi BPOM karena masih diproduksi dalam skala kecil oleh peternak.
Kondisi ini semakin mempertegas pentingnya pengawasan terhadap keamanan pangan, terutama ketika produk yang dibagikan dikonsumsi oleh anak-anak.
Kegiatan Pemulihan Trauma Justru Berujung Insiden Kesehatan
Insiden ini menjadi catatan serius dalam penyelenggaraan kegiatan kemanusiaan pascabencana. Program yang semestinya menghadirkan rasa aman, kebahagiaan, dan pemulihan psikologis bagi anak-anak korban Galodo justru diwarnai kejadian yang berujung pada penanganan medis massal.
Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan, mulai dari pemilihan makanan dan minuman, standar pengolahan dan penyimpanan, kelayakan produk, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi kesehatan.
Terlebih, anak-anak yang menjadi peserta kegiatan merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan ekstra, baik dari sisi psikologis maupun kesehatan fisik.
Hingga berita ini ditayangkan, penyebab pasti mual dan muntah yang dialami 20 anak tersebut masih belum diketahui. Penelusuran terhadap susu kambing, makanan lain yang dibagikan, serta faktor kesehatan lainnya menjadi penting untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Publik kini menunggu hasil pemeriksaan pihak berwenang sekaligus langkah evaluasi agar kegiatan sosial dan kemanusiaan yang ditujukan bagi korban bencana benar-benar memberikan manfaat, bukan justru menghadirkan risiko baru. (Rd)











