Oleh : Syaiful Rajo Bungsu
7.topone.id – Peringatan Hari Bhayangkara ke-79 pada 1 Juli 2025 bukan hanya menjadi tonggak historis bagi institusi Polri, tetapi juga momentum refleksi kolektif atas relasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat adat dalam merawat keamanan dan ketertiban sosial. Tema nasional tahun ini, “Polri untuk masyarakat”, mengandung makna bahwa kekuatan Polri sejatinya lahir dari kepercayaan dan dukungan rakyat itu sendiri.
Di Kabupaten Solok, Hari Bhayangkara tidak sekadar seremoni tahunan, melainkan titik tolak penguatan sinergi antar unsur dalam menghadapi tantangan kekinian seperti efek globalisasi, disrupsi digital, meningkatnya kekerasan sosial, serta maraknya penyalahgunaan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda.
Polri yang Humanis dan Responsif
Kapolres Solok Arosuka bersama jajarannya menunjukkan pendekatan yang semakin humanis dalam mendekatkan diri kepada masyarakat. Melalui kegiatan seperti Anjangsana ke rumah purnawirawan dan warakawuri Polri, pemberian bantuan sosial di nagari-nagari, serta aksi kepedulian terhadap kelompok rentan, citra Polri yang bersahabat dan empatik terus diperkuat.
Polri tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra sosial. Dalam menghadapi kasus kekerasan dan penyalahgunaan narkoba, Polres Solok mendorong pendekatan preventif dan edukatif yang melibatkan sekolah, orang tua, serta tokoh adat.
Harapan Bupati Solok: Masyarakat Aman, Produktif, dan Beradab
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, SH dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kehadiran Polri sangat dibutuhkan dalam menjaga stabilitas keamanan sebagai fondasi pembangunan daerah. Menurutnya, keamanan sejati hanya akan terwujud bila seluruh elemen pemerintah, aparat keamanan, masyarakat, hingga lembaga adat bekerja dalam satu irama.
Beliau menekankan perlunya kolaborasi dalam menghadapi tantangan zaman. Arus globalisasi membawa banyak nilai asing yang bisa memengaruhi perilaku masyarakat, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, Polri, bersama pemerintah dan pemuka adat, harus menjaga ketahanan nilai dan moral.
Ia juga mengingatkan bahwa membangun keamanan bukan sekadar menjaga dari kejahatan, tetapi membina masyarakat agar bebas dari ketakutan, rasa curiga, dan kekacauan sosial. Polri harus menjadi sahabat rakyat, bukan sekadar penjaga wilayah.
Peran LKAAM: Menjaga Tali Nilai dan Budaya
Ketua LKAAM Kabupaten Solok, Dr. H. Gusmal, SE, MM Datuak Rajo Lelo, menyatakan bahwa keamanan sejati juga bergantung pada nilai dan adat istiadat. Di Ranah Minangkabau, prinsip “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menjadi pedoman dalam membina kehidupan sosial.
Menurutnya, banyak persoalan sosial seperti narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, dan kriminalitas remaja berakar pada hilangnya nilai-nilai adat dan keluarga. Maka dari itu, LKAAM mendorong agar pendekatan penyelesaian masalah tidak semata-mata lewat jalur hukum positif, tetapi juga melalui mediasi dan musyawarah adat.
LKAAM siap menjalin sinergi lebih kuat dengan pihak kepolisian dan pemerintah daerah agar penyelesaian konflik dapat lebih berakar dalam masyarakat. Di banyak nagari, musyawarah adat terbukti lebih efektif dan menyentuh rasa malu, rasa hormat, serta rasa tanggung jawab masyarakat.
Tantangan Zaman, Kewajiban Bersama
Peringatan Hari Bhayangkara 2025 berlangsung di tengah dunia yang bergerak cepat. Digitalisasi dan globalisasi, selain membawa kemajuan, juga melahirkan tantangan baru seperti krisis identitas, banjir informasi yang menyesatkan, serta nilai-nilai hedonistik yang menyusup ke kehidupan masyarakat.
Dalam situasi ini, keamanan tidak bisa hanya ditumpukan pada aparat. Ia adalah hasil dari kesadaran kolektif, yang dibangun atas dasar kepercayaan, keteladanan, dan kepedulian bersama. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang responsif dan mendidik. Polri harus bersikap lebih empatik, melayani, dan mendengarkan. Adat dan agama mesti menguatkan nilai dan moral.
Kabupaten Solok dengan keragaman nagari dan kekuatan budaya punya potensi menjadi contoh bagaimana keamanan dijaga bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keteladanan dan kepercayaan.
Menjahit Ulang Simpul Kepercayaan
Hari Bhayangkara ke-79 menjadi waktu yang tepat untuk menjahit ulang simpul-simpul kepercayaan antara masyarakat dan institusi negara. Jika Polri semakin dekat dengan masyarakat,pemerintah daerah responsif terhadap kebutuhan publik, dan lembaga adat terus menjaga nilai, maka Solok akan menjadi wilayah yang tidak hanya aman, tetapi juga rukun, berbudaya, dan bermartabat.
Dalam suasana peringatan ini, harapan kita sama yaitu menjadikan Kabupaten Solok sebagai ruang hidup yang aman, sehat, cerdas, dan berakhlak. Bhayangkara tidak hanya berdiri tegak di pos penjagaan, tetapi juga berdetak di hati rakyat, “Salam PRESISI”. ***











