Oleh: Syaiful Rajo Bungsu
7.topone.id – Hari jadi ke-112 Kabupaten Solok yang diperingati setiap 9 April bukanlah sekadar momen seremonial. Di balik angka ini, tersimpan kisah panjang tentang ketahanan, perubahan, dan harapan yang terus tumbuh di antara lembah Danau Singkarak hingga kaki Gunung Talang.
Kabupaten Solok bukan hanya sebatas wilayah administratif, namun Kabupaten Solok adalah ruang hidup masyarakat dengan nilai, identitas, dan cita-cita kolektif.
Didirikan pada tahun 1913, Kabupaten Solok telah menyusuri berbagai fase sejarah: dari era kolonialisme, masa perjuangan kemerdekaan, hingga dinamika era otonomi daerah.
Dalam setiap fase itu, masyarakat Solok selalu menunjukkan ketangguhan bertahan dalam badai, tumbuh dalam keterbatasan, dan terus berbenah menyambut tantangan zaman.
Yang membuat Kabupaten Solok tetap istimewa bukan hanya keindahan alam atau usia yang panjang, tetapi keberhasilannya menjaga jati diri.
Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS SBK) dan prinsip “Alua jo patuik” tak hanya menjadi semboyan, tetapi napas dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal seperti gotong royong dan musyawarah menjadi perekat sosial yang tak lekang oleh waktu.
Kini, pada usia ke-112, Kabupaten Solok berada di sebuah persimpangan penting. Di satu sisi, berbagai kemajuan telah dicapai diantaranya pembangunan infrastruktur, layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, serta geliat pariwisata yang mulai menjanjikan.
Namun di sisi lain, tantangan baru tak bisa diabaikan: krisis iklim, tekanan ekonomi global, regenerasi petani yang stagnan, serta ancaman terhadap budaya dan lingkungan.
Teknologi digital telah mengubah lanskap ekonomi dan pola pikir generasi muda. Ketertarikan mereka kini lebih condong ke sektor jasa, hiburan, dan ekonomi kreatif.
Lalu bagaimana nasib sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung Kabupaten Solok?. Inilah ujian nyata bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, mampukah kita memadukan kemajuan dengan pelestarian?.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pembangunan ke depan tidak bisa lagi hanya fokus pada beton dan aspal. Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan. Setidaknya ada lima arah strategis yang patut mendapat perhatian:
1. Modernisasi Pertanian dan
Ketahanan Pangan
Pertanian Solok harus memasuki era baru. Teknologi pertanian, pelatihan generasi muda, dan digitalisasi pemasaran menjadi keniscayaan untuk mempertahankan ketahanan pangan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
2. Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
Danau Singkarak, Danau Kembar, hingga kawasan agrowisata memiliki daya tarik tinggi. Namun semua itu harus dikelola dengan pendekatan profesional, berbasis budaya lokal, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
3. Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Kabupaten Solok memiliki kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi. Dukungan terhadap pelaku UMKM, akses pasar digital, dan pendampingan intensif harus terus diperkuat.
4. Pendidikan Karakter dan Generasi Emas Nagari
Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Pendidikan berbasis nilai-nilai lokal dan global akan melahirkan generasi yang cerdas, tangguh, dan berakar pada budaya.
5. Pemerintahan Digital dan Transparan
Pelayanan publik harus adaptif terhadap zaman. Digitalisasi birokrasi, e-governance, dan keterbukaan data menjadi pilar penting untuk membangun kepercayaan dan partisipasi publik.
Slogan “Kabupaten Solok Bangkit, Petarung dan Sejahtera” bukanlah jargon kosong. Ia adalah seruan moral untuk semua anak nagari agar turut serta dalam pembangunan.
Tak cukup hanya mengandalkan pemerintah, peran aktif perantau, tokoh adat, kaum muda, dunia usaha, dan masyarakat sipil sangat menentukan.
Ulang tahun ke-112 ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari lompatan baru. Lompatan yang lahir dari cinta akan kampung halaman dan diwujudkan melalui kerja nyata.
Kabupaten Solok hari ini adalah hasil dari upaya generasi terdahulu. Kabupaten Solok masa depan adalah tanggung jawab generasi kini.
Maka, mari kita jadikan peringatan ini sebagai momen refleksi dan aksi. Karena masa depan tidak akan hadir hanya dengan kenangan, tetapi dengan perjuangan. ***
Dirgahayu Kabupaten Solok ke-112. Semoga tetap subur oleh kerja keras, dan penuh berkah oleh doa seluruh warganya. ***











