7.topone.id – Musim kering yang melanda Kabupaten Solok selama lebih dari dua bulan terakhir kini mulai menemukan titik terang. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok di bawah kepemimpinan Bupati Jon Firman Pandu, SH, bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kekeringan ekstrem dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Operasi yang dimulai pada Jumat (25/7/2025) ini difokuskan di dua wilayah terdampak paling parah, yakni Kabupaten Solok dan Kabupaten Limapuluh Kota. Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Dedi Kurniawan, menyebutkan bahwa kedua daerah tersebut telah menetapkan status tanggap darurat Karhutla.
“Modifikasi cuaca diharapkan mampu menurunkan potensi kebakaran sekaligus memenuhi kembali kebutuhan air masyarakat,” jelas Desindra.
Langkah cepat ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi intensif yang dilakukan langsung oleh Bupati Solok dengan BNPB di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Jon Firman Pandu menyampaikan urgensi penanganan kekeringan yang telah berlangsung lebih dari 60 hari, berdampak terhadap ketersediaan air bersih dan kegiatan pertanian masyarakat.
“Kami tidak tinggal diam melihat situasi ini. Koordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi menjadi kunci untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” tegas Bupati Jon Firman Pandu.
Tak hanya berkoordinasi dari balik meja, Bupati Solok turut meninjau langsung pelaksanaan OMC di Posko Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Di sana, ia menyaksikan proses penyemaian awan menggunakan pesawat dengan menaburkan garam (NaCl) ke atmosfer sebagai pemicu terbentuknya hujan.
Hasilnya tak mengecewakan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akhirnya turun di sebagian wilayah Kabupaten Solok pada Sabtu (26/7/2025). Masyarakat, khususnya petani, menyambutnya dengan suka cita.
“Alhamdulillah, hujan sudah turun di wilayah kita. Ini sangat membantu petani dan masyarakat yang sudah lama menanti,” ujar Jon Firman Pandu dengan penuh rasa syukur.
Air hujan tersebut diharapkan mampu menekan potensi Karhutla, mengisi kembali sumber air tanah, serta memperlancar irigasi pertanian. Pemerintah Kabupaten Solok menyatakan akan terus memantau perkembangan cuaca dan tetap siaga menghadapi kemungkinan lanjutan.
OMC ini menjadi bukti nyata efektivitas sinergi antara pemerintah daerah dan pusat dalam merespons tantangan perubahan iklim dan bencana alam. Komitmen, komunikasi yang solid, serta aksi nyata dinilai menjadi kunci dalam melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem. (Rd)











