Oleh: Hafni Hafiz
7.topone.id – Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Kawasan Gajah Mada Alahan Panjang telah bertransformasi menjadi salah satu kawasan bisnis paling strategis di Kabupaten Solok. Kawasan ini bahkan dapat disebut sebagai pusat perputaran ekonomi harian terbesar di daerah tersebut.
Nilai tanah di sepanjang kawasan ini melonjak fantastis, mencapai kisaran Rp4 juta per meter persegi. Terletak di ruas jalan provinsi Alahan Panjang–Solok via Kubang Duo, kawasan ini dipenuhi deretan ruko yang hampir 100 persen terisi. Aktivitas ekonomi hidup sejak pagi, siang, hingga malam hari.
Mulai dari kafe, perbankan, butik, toko bangunan, swalayan, hingga lembaga pemasyarakatan, semuanya tersedia di sepanjang Gajah Mada. Popularitas kawasan ini kian meningkat karena terkoneksi langsung dengan Nagari Sei Nanam, wilayah dengan pertumbuhan ekonomi yang signifikan berkat stabilnya harga komoditas hortikultura.
Namun, di balik gemerlap kawasan emas ini, terdapat ironi pelayanan publik yang sangat mendasar, yaitu air bersih.
PDAM yang Tertinggal dari Perkembangan Zaman
Dalam empat bulan terakhir, tercatat sudah tiga kali air PDAM mati total di kawasan Gajah Mada. Gangguan pada bulan November dan Desember masih dapat dimaklumi karena adanya pengerjaan jalan Taratak Galundi–Alahan Panjang yang berdampak pada jaringan pipa. Meski demikian, proses perbaikan yang memakan waktu berhari-hari tetap patut dipertanyakan.
Ironisnya, dalam dua minggu terakhir, air kembali mati hampir setiap hari. Warga dan pelaku usaha terpaksa mencari bantuan air, mulai dari meminta bantuan pemadam kebakaran hingga membeli air tangki secara mandiri. Ini jelas menambah beban ekonomi masyarakat di kawasan yang seharusnya menjadi etalase kemajuan daerah.
Apakah ada petugas yang bekerja? Ada. Setiap hari terlihat petugas Unit PDAM Alahan Panjang melakukan penggalian. Namun dengan jumlah personel yang terbatas, upaya tersebut tidak kunjung membuahkan hasil.
Hingga hari ini, sudah memasuki hari ke-12, tercatat lima titik di pinggir jalan provinsi digali, tetapi penyebab utama kerusakan belum juga ditemukan. Padahal jarak dugaan kerusakan pipa paling jauh hanya sekitar 300 meter. Apakah wajar perbaikan pipa sepanjang itu memakan waktu berminggu-minggu?.
Tanpa Peta Jaringan, Bekerja Seperti Meraba Dalam Gelap
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Solok pekan lalu, terungkap fakta yang sangat mencengangkan. Dimana PDAM Kabupaten Solok tidak memiliki peta jaringan pipa kawasan Gajah Mada.
Tanpa peta jaringan, tidak heran jika penggalian dilakukan di banyak titik tanpa arah yang jelas. Pekerjaan terkesan coba-coba, membuang waktu, tenaga, dan anggaran, sementara masyarakat terus menanggung dampaknya.
Kondisi ini menunjukkan lemahnya manajemen dan perencanaan PDAM. Di tengah gerak cepat Bupati dan Wakil Bupati Solok dalam menyelesaikan berbagai persoalan daerah, kinerja PDAM justru menjadi noda dalam pelayanan publik.
Air Adalah Hak Dasar Masyarakat
Air bukan sekadar komoditas, melainkan sumber kehidupan. Jangan sampai masyarakat dipermainkan dengan krisis air berkepanjangan. Jangan menzalimi warga dengan pelayanan yang lamban dan tidak profesional.
Sudah seharusnya dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen PDAM Kabupaten Solok. Penambahan tenaga kerja, dukungan peralatan yang memadai, serta bantuan teknis dari tingkat kabupaten adalah langkah mendesak yang harus segera dilakukan.
Jangan sampai muncul kesan adanya pembiaran
Pepatah Minangkabau mengatakan, “Tikus mati di lumbung padi.” Air Danau Di Atas yang melimpah ruah seharusnya mampu mengalir ke rumah-rumah warga, bukan menjadi ironi di negeri yang kaya sumber daya air.
PDAM Kabupaten Solok, di mana tanggung jawabmu?.
“Ironis” ***











